Senin, 03 Oktober 2011

Arti Sebuah Kesetiaan


Pagi hari didalam sebuah rumah. “hei pemalas! Lekas bangun dan segerlah mandi! Kalau tidak kamu bisa terlambat!” seru perempuan berdaster dan memakai  sandal jepit.
 “iya bu.. crewet sekali sih!!” sahut seorang remaja SMP yang sedang mencari jati dirinya. Ia pun langsung beranjak dan segera masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berganti seragam ia langsung bergegas berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda motor barunya.
Pagi itu adalah hari baru untuk seluruh siswa SMP1. Bagaimana tidak, pagi itu adalah hari pertama mereka menempati kelas baru mereka setelah lulus dari tes semester kedua.
Dia adalah Surya , seorang murid yang usil tapi juga baik hati di SMP1. Pagi itu dia sedang mencari-cari kelasnya, yaitu kelas 8E. Setelah beberapa kelas ia telusuri, akhirnya ia menemukan kelas yang nantinya akan ia tempati bersama teman-temanya yang lain. Kelas yang berada tepat diujung dekat tangga dan bersebalahan dengan SD  ini adalah tempat dimana ia akan belajar dan berbagi dengan teman-teman barunya. Bel  tanda masuk sudah berbunyi, semua siswa memasuki kelas yang sudah ditentukan. Semua siswa dikelas 8E sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Tidak berselang lama, perempuan berkrudung yang sudah lumayan tua memasuki kelas Surya, beliau adalah Bu Samsidah, guru sejarah yang nantinya akan menjadi wali kelas 8E.
Bu Samsidah memperkenalkan dirinya dan mengabsen siswa yang ada di kelas 8E. Kelas 8E terdiri atas 24 siswa, 10 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan.  Setelah semua selesai diabsen, Bu Samsidah meminta seluruh kelas 8E untuk menentukan ketua kelas dan membuat organisasi. Akhirnya  ketua kelas pun terpilih, yaitu Fiki dan organisaipun selesai dibuat.
Hari pertama masuk digunakan untuk perkenalan oleh masing-masing siswa dan saling berbagi pengalaman baik dikelasnya yang dulu maupun pengalaman di luar sekolah. Seperti biasa, Surya berkumpul dengan rombongan temanya kelas 7 yang kebetulan satu kelas lagi denganya yaitu Adi, Tio, dan Tama. Mereka berempat termasuk Surya adalah mantan anak 7E dan mereka juga terkenal sebagai anak yang usil disekolah, tetapi  mereka berempat juga masih punya sopan santun dan mau berkenlan dengan teman teman baru yang ada dikelas 8E. Bel tanda pulang sekolah berbunyi, anak – anak merapikan barang bawaanya dan pulang ke rumah masing- masing. Hari itu terasa cepat dan menyenangkan. Karena Surya telah duduk di kelas 8 dan mendapat teman baru.
Hari kedua, tepat pada hari Selasa jam kedua di kelas Surya yaitu pelajaran Bahasa Jawa, Pak Purno adalah guru dari mata pelajaran Bahasa Jawa. Sebelum memulai pelajaran, Pak Purno memperkenalkan dirinya dan menabsen satu persatu. Pak Purno melihat empat orang anak yang memang sudah tidak asing baginya, yaitu Surya, Tio, Adi, dan Tama. “ealah kowe cah papat kok iso kumpul maneh to nang! Wes jan Punakawan tenan!” Pak Purno dengan logat jawanya berkomentar atas keberadaan Surya, Tio, Adi, dan Tama. Dari perkataan Pak Purno itulah menjadi awal terbentuknya Punakawan yang beranggotakan empat anak usil itu.
Surya, ia merupakan cowok ‘playboy’ yang gemar mempermainkan cewek, kalau dihitung dari dulu sampai saat ini mantan pacarnya hampir mencapai 20 orang, walau begitu Surya mempunyai banyak teman,  ia suka sekali badminton dan sepakbola.
 Tio, ia adalah punakwan yang setia pada satu pasangan, di hitung dari awal ia pacaran sampai sekarang, ia hanya memiliki dua mantan pacar, dan satu pacar, Tio merupakan anak basket dan merupakan pemain yang banyak mempunyai penggemar, ia juga pandai berbahasa Inggris.
 Adi, merupakan siswa yang menjuarai tae kwon do se-Jawa Tengah, ia tidak mempunyai pacar, tetapi ia sedang suka dengan seseorang yang memang ia rahsiakan.
Tama, adalah anggota punakawan yang paling tidak terkenal, ia suka berenang dan bersepeda, kalau urusan pacar, Tama paling malas membicaraknya, karena ia masih trauma ditinggal kekasihnya sewaktu SD dulu, dan kekasihnya itu masih terbayang di pikran Tama.
Istirahat pertama berbunyi, semua siswa keluar kelas untuk istirahat dan makan. Punakawan dan teman yang lain duduk di depan kelas mereka sambil bercanda.
“Bagaimana kalau kita taruhan!” kata Adi mengagetkan.
“Taruhan apa?” Surya membalas dengan jawaban berani, semua yang berada di tempat itu mendengarkan tantangan Adi.
siapa yang berani berpacaran tetapi hanya satu minggu dan saat pacaran gak boleh mesra-mesraan dan hanya ada tangisan di dalam hubungan itu?” tantang Adi.
Semua diam dan tak ada yang berani menerima tantangan Adi, tetapi tak beberapa lama terdengar suara dari mulut Surya
“ OK siapa takut!” dengan lantang Surya menerima tantangan Adi.
Tidak heran kalau Surya menerimanya, ia memang terkenal sebagai playboy di sekolahnya.
“Ok , kalau begitu kamu harus berpacaran dengan Leni! Bagaiman? Kuberi kau waktu satu minggu untuk mendapatkan dia dan satu minggu untuk perjanjian kita!” kata Adi menantang.
“Baiklah, aku tidak butuh waktu lama-lama untuk mendapatkanya, tiga hari cukup untuk mendapatkan Leni!” sahut Surya lebih menantang
“Kita sekarang deal dan teman-teman yang menjadi saksi. Setuju kan kawan?” seru Adi
“Yaa..” sahut semua yang menyaksikan perdebatan Adi dan Surya.
Hari pertama Surya mencoba mendekati Leni yang memang lumayan terkenal di sekolah, dengan gampang Surya mengajak Leni untuk pergi bersamanya. Di benak Surya besok saat ia mengajak Leni keluar adalah saat yang tepat untuk ‘menembaknya’.
Hari kedua setelah pulang sekolah, Surya bergegas menuju kelas Leni untuk menemuinya dan mengajaknya jalan-jalan. Setelah mereka bertemu, Surya bergegas mangambil motornya dan menghampiri Leni yang sedang menuggunya di depan sekolah. Mereka berdua pergi ke sebuah rumah makan yang memang sudah mereka rencanakan. Di rumah makan itu Surya berbincang dengan Leni  mengenai beberapa hal dan bertanya tentang kehidupan Leni, mereka sangat menikmati pebincangan mereka , tetapi Leni terdiam setelah Surya melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat mengagetkanya, itulah saat Surya ‘menembak’ Leni. Badan Leni terasa kaku dan tidak terbayangkan sebelumnya. Leni memang menyayangi Surya dan ia memang suka pada Surya sejak kelas tujuh. Tanpa berpikir kedepan, Leni langsung menerima Surya sebagai pacarnya dan di hari itulah mereka berpacaran.
Keesokan harinya di sekolah, Adi mendengar bahwa Leni telah berpacaran dengan Surya, sontak Adi kaget bukan main, Adi langsung mencari Surya yang sengaja merahasikan status hubunganya kepada Adi.
“Sialan kamu Surya, hebat banget kamu!” kata Adi setelah ia bertemu Surya.
“Iya dong, Surya memang habat dari dulu!” jawab Surya dengan nada sombong.
“Wah sombong kamu sur..” sahut Adi.
“Sudahlah Di, hubunganku ini cuma satu minggu saja kan? Jangan lama-lama ya. Sebenarnya aku ini gak ada perasaan apapun kepada Leni” tanya Surya.
“Iya deh, gampang, kan sesuai perjanjian..” jawab Adi.
“Okelah kalau begitu” jawab Surya. Setelah bicara lama sekali, mereka menuju kelas dan bergabung dengan teman-teman yang lain.
Sepulang sekolah, Surya langsung pulang dan menuju ke kamar, di dalam kamar ia berpikir tentang setatus hubunganya dengan Leni. Surya berpacaran dengan Leni tanpa ada rasa sayang dan cinta sedikitpun. Surya berpacaran hanya karena taruhan, dan tidak ada faktor lain lagi yang campur dalam hubunganya itu.
Lima hari telah dilewati Surya, ia berpacaran tanpa ada rasa sayang dan hanya ada kesedihan di lima hari mereka berpacaran itu. Tetapi karana sayang dan cinta, Leni tetap memapertahankan hubunganya itu walaupun teman-teman Leni menyuruh Leni untuk mengakhiri hubunganya dengan Surya karena  kasihan melihat Leni yang disakiti Surya terus menerus.
Hari ketujuh setelah pulang sekolah, Surya bersama Punakawan menghampiri Leni di kelasnya. Pada saat itulah Surya tanpa berpikir panjang dan belas kasihan ia mengatakan bahwa hubungan mereka berakhir. Setelah mengatakan itu, Surya langsung meninggalkan Leni. Mendengar pernyataan itu, Leni yang saat itu bersama empat temanya sangat kaget dan badan Leni langsung lemas bersama dengan itu Leni mengeluarkan air mata. Rahma salah seorang teman Leni bergegas memanggil Surya dan meminta pertanggung jawaban Surya. Dengan ketidakpedulianya, Surya dan Punakawan pergi tanpa memikirkan Leni.
Satu bulan setelah kejadian itu, Surya yang dulunya dikenal sebagai ‘playboy’ biasa,  sekarang menjadi ‘playboy kejam’ dan tidak ada anak perempuan yang percaya kepadanya sekarang. Tapi walau begitu Surya masih dapat mempunyai pacar dengan mudah dan meninggalkanya dengan mudah pula.  Teman-teman perempuan Surya di kelas sangat tidak menyukai kelakuan Surya itu, dan selalu mengingatkan Surya tentang betapa penting dan berharganya wanita.
Sebut saja Wina, cewek teman satu kelas Surya yang sangat tidak menyukai Surya dan semua kelakuanya, begitu pula Surya yang juga tidak suka dengan Wina. Wina adalah cewek yang memang terkenal cantik dan tidak sombong tetapi dimata Surya, Wina tak ada baiknya sama sekali. Banyak sekali cowok-cowok yang ingin menjadi pacar Wina, tetapi untuk menjadi pacarnya tidaklah semudah membalikan telapak tangan, Wina suka terhadap cowok yang baik hati dan setia. Diki, ia adalah pacar pertama Wina di kelas delapan ini, ia memang baru pertama kali berpacaran, berbeda dengan Surya yang mungkin puluhan kali berpacaran.
Dua bulan sekolah, Surya tetap menjadi Surya yang seorang ‘playboy’. Dia tidak bisa merubah kelakuanya. Suatu hari saat istirahat, Surya, Adi, Tio, dan Tama berjalan-jalan di area sekolah, seperti biasa Punakawan memang suka mengelilingi sekolah berempat, terkadang juga dengan teman yang lain. Saat berjalan-jalan, Surya melihat seorang cewek yang memang cantik, tetapi Surya tidak mengenalinya. Dengan bantuan temanya, Surya mencari tahu data cewek itu, tanpa susah payah, mereka mengetahui data cewek itu, ia adalah Nasa anak kelas sembilan yang judes tetapi cantik. Surya ingin menjadikanya sebagai pacar, dua minggu ia kenal dengan Nasa, Surya menembaknya dan diterima oleh Nasa. Seperti mendapat karma dari Tuhan, pacaran Surya kali ini sangatlah berbeda dengan yang dipikirkanya, ia seperti tidak dihargai oleh Nasa, tiga minggu mereka berpacaran dan akhirnya putus. Nasa yang memutuskan hubungan mereka. Saat itulah Surya mengetahui betapa sakitnya dipermainkan. Selama ia berpacaran, ia belum pernah merasa tersakiti seperti ini.
Satu bulan setelah semua itu terjadi, Surya sama sekali tidak mencari pengganti, bahkan ia bertekat untuk merubah hidupnya dan menghapus titel ‘playboy’ di dirinya . Tetapi apa daya, cewek-cewek tidak mempercayai tekatnya itu. Punakawan dan teman-teman Surya yang merasakan perubahan terhadap Surya merasa kasihan dan mencarikanya cewek untuk Surya, tetapi Surya tetap tidak menginginkan berpacaran.
Suatu hari saat Surya,  Adi, dan Tama pulang les dan mampir makan jagung, tiba-tiba Tama berkata “Wah, gak nyangka ya sebentar lagi akan karyawisata!”.
“Oh iya! Lupa aku! Kurang dua bulan lagi kan? Setelah ulangan semester satu..” sahut Adi.
“Iya! Bagaimana tabunganmu, mencukupi apa tidak?!” tanya Tama.
“Oh pasti dong, buat nampar mulutmu yang ganjen itu juga masih cukup! Lebih-lebih malah!” sahut Surya yang dengan nada mengejek.
“Hahaha... LAMBEMU!!” sahut Adi.
Mereka bertiga asik dengan pembicaraan mereka ditemani jagung bakar dan segelas susu hangat.
“Bagaimana nih? Karyawisata sudah punya pacar atau inceran apa belum?” kata Adi mengagetkan.
“Buat apa Di?” tanya Tama.
“Hahaha.. ya buat gandengan dong kalo karyawisata, iya kan Di?” potong Surya.
“Nah itu si playboy tobat aja tau! Dasar cupu kamu Tam!” sambung Adi.
“Akh iya-iya deh!” jawab Tama mengalah.
“Hm, kalau aku sih ntar aja, gampang! Kan masih lama! Lha kamu Di, Tam?” sahut Surya sekaligus bertanya.
“Haha, aku udah punya calon.. hahaha..” jawab Adi.
“Akh males aku!” jawab Tama setelah Adi.
“Alah, males apa gak bisa Tam? Eh siapa calonmu itu Di?” tanya Surya.
“Lho emang males aku ngurusin mahluk menyebalkan yang sukanya cuma ngegosip dan cerewetnya minta ampun itu Sur!” jawab Tama.
“Calonku? Masih rahasia pribadi itu Sur!” jawab Adi.
“Wah hati-hati karma lho Tam! Nanti kayak aku lho!” Surya menanggapi omongan Tama.
“Iya.. hati-hati kamu Tam ntar kayak si playboy tobat lho. hahaha” tegas Adi.
“Kok kalian jadi mojokin aku gitu! Ya deh aku tarik omonganku!” jawab Tama terpojok.
“Hahaha, udah terlanjur ilang itu omongan!” jawab Adi.
“Udahlah Di, kasian dia, nanti ngadu ke orangtuanya lho” sela Surya.
“Iya iya deh..” Adi menyudahi.
Mereka mengobrol lama sekali dan tidak terasa langit sudah petang. Setelah membayar makanan mereka bertiga pulang kerumah masing-masing.
Hari-hari dilalui Surya tanpa pasangan, ia masih pada pendirianya untuk bertobat. Setiap malam Surya memikirkan apa yang ia bicarakan dengan Adi dan Tama, yaitu masalah pacar untuk karyawisata. Satu minggu berlalu, ternyata Adi sudah mempunyai pasangan yaitu Vivi, mereka jadian sudah satu minggu yang lalu. Surya masih memikirkan pasangan yang kiranya cocok untuknya.
Suatu hari di sekolah, Surya berjalan menuju kantin, ia melewati sebuah lorong yang ada di bawah kelasnya. Saat itu ia bersisipan dengan cewek berkerudung, cewek itu adalah Nissa adik kelas Surya. Entah mengapa saat melihat Nissa, Surya menjadi suka kepada Nissa. Dengan keberanianya, Surya menghapiri Nissa di kelasnya yaitu kelas 7B, ia meminta nomor HP Nissa. Dengan senang hati, Nisaa memberikan nomor HPnya ke Surya. Sejak saat itulah Surya mulai berhubungan dengan Nissa.
Dikelas saat jam kosong, Surya dan teman-temanya pergi ke kantin. Akan tetapi Surya di kantin hanya sebentar dan langsung kembali ke kelas, sementara teman-temanya masih di kantin untuk makan dan mengobrol. Di kelas, Surya menghampiri  teman-teman perempuanya yang saat itu sedang duduk di lantai bermain kartu di pojok belakang kelas. Tanpa disadari, Surya melihat Wina yang saat itu duduk di atas kursinya. Di dalam hati Surya berkata ” ternyata Wina cantik juga, pas buat dijadikan gandengan saat karyawisata nanti”. Jadi saat ini Surya sedang mengincar dua cewek berbeda.
Suatu hari Surya dan Adi berjalan di sekolah sambil berbincang-bincang.
“Eh Di, kamu teman SDnya Wina ya?” tanya Surya.
“Iya, kenapa? Kamu suka?” jawab Adi.
“Em, gimana ya.. menurutmu dia cocok buat aku apa enggak?” Surya menjawab dengan malu.
“Kalau suka bilang aja, kamu itu cocok buat semua cewek Sur!” jawab Adi memberi semangat
“Em, kalau sama Nissa cocokan mana?” tanya Surya lagi
“Nissa kelas 7 itu? Ya terserah kamu itu.. bukan urusanku! Haha” jawab Adi
“Kalau kamu pengen sama Wina, aku punya nomor HPnya, kalau kamu mau cari sendiri nih di HPku!” tawar Adi kepada Surya.
“Iya deh, aku minta.” Jawab Surya sambil meminta HP Adi.
Malamnya Surya mencoba mengirimkan SMS ke Wina. Wina membalas SMS Surya dengan kata-kata cuwek dan tidak perduli. Terang saja, Wina memang tidak suka dengan Surya dan semua perbuatanya. Tapi Surya tetap berusaha untuk mendapatkan hati Wina.
Satu minggu berlalu, Surya tetap mencoba untuk mendapatkan hati Wina dengan cara apa saja. Dia sekarang berubah, yang dulu tidak suka dengan Wina, sekarang menjadi suka dan ingin memilikinya. Perasaanya sekarang  berlainan dengan perasaanya kepada Wina dahulu. Surya mencoba-coba untuk mengungkapkan perasaanya kepada Wina, tapi sayang, Wina selalu menganggap kalau Surya mencoba mempermainkanya seperti cewek-cewek bekasnya dulu, padahal Surya tidak mempunyai niat seperti itu.
Suatu saat Surya mendengar kabar dari Adi yang sangat membuat hancur hatinya. “Wina telah mempunyai pacar. Eza kelas sembilan” kata Adi. Mendangar itu hati Surya terasa hancur berkeping-keping, ia terasa tidak di hargai. Jelas saja, ia bingung mengapa Wina lebih menyukai Eza daripada dia. Dari segi wajah jelas menang Surya, dari segi body menang Surya, dan dari segi ketenaran juga menang Surya, “tapi mengapa Wina memilih Eza daripada aku?” tanya Surya dalam hati. Surya yakin bahwa hubungan Wina tidak akan lama, karena Surya yakin cintanya pada Wina dan Surya yakin akan mendapatkan Wina.
Hari demi hari Surya jalani. Karena Wina sudah punya pacar, Surya agak mengurangi SMSanya dengan Wina, Surya tidak mau menghancurkan hubungan Wina. Ia kini berhubungan kembali dengan Nissa 7B, selain Wina, orang yang saat ini ada di hati Surya adalah Nissa. Surya juga pernah mengungkapkan perasaanya kepada Nissa, tapi sayang nasibnya sama seperti saat Ia mengungkapkan ke Wina. Surya sadar, mungkin ini adalah karma yang diberikan Tuhan kepadanya karena sering mempermainkan hati wanita.
Satu minggu setelah Wina jadian, Surya mendapat kabar dari Rahma teman dekat Wina sekaligus teman sekelas Surya, Rahma mengabarkan kalau Wina sudah putus dengan Eza. Alangkah senangnya Surya mendengar berita itu. Setelah mendngar berita itu, Surya mulai mendekati Wina lagi. Surya mulai SMSan lagi dengan Wina, sekarang Wina agak sedikit peduli dengan Surya. Setiapkali mereka SMSan, Surya selalu menembak Wina, ia takut kalau Wina jatuh ke pelukan orang lain lagi.
Tiga minggu Surya lewati dengan terus mencoba mendapatkan hati Wina, setiap kali SMSan Surya selalu menanyakan apakah Wina mau menjadi pacarnya, tapi hasilnya tetap saja, Surya ditolak. Hingga suatu hari ia berbicara dengan Muna teman satu kelas Surya, Surya mengungkapkan isi hatinya tentang betapa seriusnya ia mencitai Wina. Karena Muna melihat Surya memang benar-bernar serius, akhirnya Muna menyampaikan keseriusan Surya kepada Wina.
Ternyata selama ini Wina mengamati Surya, ia sengaja menolak Surya karena ingin melihat apakah Surya benar-benar serius kepadanya. Dari hasil pengamatanya dan laporan dari Muna Wina mulai percaya pada Surya. Wina terus mengikuti perkembangan Surya dengan bantuan Muna dan teman yang lainya.
Suatu hari, Muna menemui Surya. Muna mengatakan bahwa Wina sudah percaya pada Surya dan mungkin jika Surya menembak Wina, ia akan diterima. Mendengar itu Surya sangat bahagia dan berniat untuk menembak Wina.
Pada hari Minggu tanggal tujuh bulan Maret 2010, Surya menyatakn cintanya pada Wina, ia berjanji akan menjaga Wina dan tidak akan mengecawakanya seperti yang ia lakukan pada pacarnya yang dulu. Akhirnya Wina menerima Surya dengan segala jani-janji yang diucapkan Surya kepadanya.
Satu bulan sudah mereka menjalan hubungan mereka, Surya tidak nyaman dengan hubungannya sekarang, Wina ternyata masih ingat masa-masa pacaranya dengan Diki. Wina masih merasa menyesal karena telah memutuskan Diki. Hati Surya rasanya hancur, karena semua pengorbananya tidak berarti, ternyata Wina masih cinta dengan Diki.
Pada suatu kesempatan, Surya mengajak Wina untuk membicarakan hubunganya ini. Wina memilih membicarakan di rumahnya saja. Pada saat itu Surya menayakan tentang hubunganya sekarang dan apakah Wina masih mencintai Diki. Wina menjawab bahwa ia sudah tidak cinta lagi dengan Diki, dan di hati Wina sekarang hanyalah ada Surya, Wina juga berjanji akan melupakan Diki dan lebih menyayangi Surya. Akhirnya, Surya mempercayai perkataan Wina.
Tujuh bulan mereka menjalani hubungan, mereka berdua sudah duduk di bangku kelas sembilan dan tidak satu kelas. Mereka merasa nyaman dangan hubungan mereka saat ini. Tapi Surya sedih, karena SMA nanti Wina akan pindah kota karena harus ikut dengan orang tuanya.
Hari demi hari mereka lewati bersama. Canda, tawa, sedih, senang, mereka rasakan bersama. Teman-teman mereka senang melihat hubungan mereka langgeng walapun sering ada masalah di kehidupan mereka. Ujian nasional yang menjadi momok bagi siswa akhirnya sudah didepan mata, mereka mengurangi aktifitas mereka berdua dan konsentrasi belajar. Dengan jeripayah mereka, akhirnya di penerimaan hasil lulus, mereka berdua lulus dengan nilai yang memuaskan.
Sampai pada suatu hari yang memang hari yang tidak dinanti oleh mereka berdua, yaitu hari dimana Wina akan pindah keluar kota. Surya menemani kepergian Wina dengan kesedihan, ditambah dengan tangisan Wina yang membuat suasana jadi tambah menyedihkan. Akhirnya, Wina berangkat ke Solo dan meninggalkan Surya bersama kenangan indah yang telah merka rangkai bersama.
Walaupun jarak memisahkan mereka, tapi hubungan mereka masih berlanjut sampai SMA. Surya memasuki Taruna Nusantara untuk menggapai impianya manjadi anggota TNI, sedangkan Wina masuk ke SMA 4 Solo agar dapat menjadi programer yang hebat.
Sembilan tahun sudah mereka menjalin cinta, dan melewati masalah berdua. Kini Surya telah menjadi Perwira di TNI-AD, dan Wina sudah sudah bekerja di perusahaan ternama sebagai programer. Impian mereka berdua telah terwujud dan hubungan mereka sudah tidak diragukan lagi kematanganya. Akhirnya di usia mereka yang ke-25, mereka menikah dan menjalani hidup berdua sebagai keluarga hingga ajal menjemput mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar